Bupati Hadiri Pesta Adat Mappogau Sihanua

Selasa, 29 Oktober 2013

Ratusan warga dari berbagai tempat, Senin (28/10) menghadiri pesta adat Mappugau Sihanua di kampung adat Karampuang di desa Tompobulu Kecamatan Bulupoddo. 

Upacara Adat Mappogau Sihanua (Pesta Kampung) merupakan upacara adat terbesar yang dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat pendukung kebudayaan Karampuang di Kabupaten Sinjai.

Upacaranya ini dihadiri oleh Bupati Sinjai H. Sabirin Yahya, unsur Muspida, Para pejabat lingkup Pemkab Sinjai serta masyarakat berlangsung dengan sangat meriah, diikuti oleh ratusan orang dan dipusatkan dalam kawasan adat. Upacaranya sendiri berlangsung dalam beberapa tahap.

Budayawan Sinjai, Muhannis mengatakan, Sebenarnya dalam masyarakat adat Karampuang, banyak sekali upacara adat yang terbagi dalam empat kategori besar dengan masing-masing penanggung jawab. Dalam pesan leluhurnya ada ungkapan yang mengatakan “Mappogau Hanuai Arungnge, Mabbissa Lompui GellaE, Makkaharui SanroE, Mattula Balai GuruE”.

Dikatakannya, Dalam tatanan kehidupan masyarakat Karampuang, terdapat empat orang pemangku adat dengan istilah Ade Eppa'e atau adat empat.Terdiri atas Arung, Gella, Sanro dan Guru.Dalam pengambilan keputusan mereka selalu mengadakan musyawarah yang tergambar dalam pesan “Eppa Alliri Pattepona Wanuae” atau empat tiang penyangga negeri.

Segala ritual yang berhubungan dengan hal-hal sakral dan berhubungan dengan orang-orang suci, menjadi bagian tanggung jawab tomatoa/arung, ritual yang berhubungan dengan masalah tanah, pertanian serta kehidupan rakyat banyak, yang menjadi penanggung jawab adalah Gella. Upacara yang berhubungan dengan kesejahteraan, kesehatan warga menjadi tanggung jawab Sanro, sedangkan upacara keagaamaan menjadi tanggung jawab Guru.

Tetapi dalam prosesi Adat Mappogau Hanua yang berdimensi sangat luas dan memiliki makna yang bermacam-macam pula, maka dalam pelaksanaannya juga melibatkan jabatan-jabatan lain dalam pelaksanaannya. "Arung atau Tomatoa hanya memimpin ritual tertinggi yakni didalam Emba," katanya.

Jauh sebelum pelaksanaan puncak acara Mappugau Hanua, kata Muhannis, para pemuka adat serta masyarakat di sekitar kampung adat Karampuang melakukan sejumlah persiapan menghadapi pesta panen ini, yakni Mabbahang, Mabbaja-baja, Menre ri Bulu, Mabbali Sumange dan Malling.

Inti dari pelaksanaan Mappogau Hanua adalah Pemujaan leluhur menggunakan media tinggalan megalitik dan persembahan sesaji. Pemberian sesaji sebagai bentuk pengabdian manusia terhadap leluhurnya yang dipuja dan mengandung arti yang mendasar, yaitu sebagai simbol pengukuhan hubungan emosional antara warga dengan leluhurnya. Hubungan itu penting dalam pikiran mereka agar kesuburan tanah tetap terjaga dalam melaksanakan kehidupan kepetaniannya. (aaNd)

 
© Warta Suara Bersatu Template Design by Tim Web Warta Sinjai | Published by wartaonline.sinjaikab.go.id .